Selasa, 08 Mei 2018
Minggu, 01 Juni 2014
Menjelang pagi
Kau datang di penghujung malam.
Terlihat lelah dan terdengar lemah.
Kemudian kau berbaring di sisi, bercerita tentang hari ini, dan aku sibuk menatap televisi.
Lalu kau berganti baju setelah lima kali aku minta. Debu jalanan bukan hal baik untuk dibawa ke atas ranjang.
Aku bosan.
Memilih untuk berbaring diam.
Menatap lekat-lekat pada lelaki yang bahkan tidak kukenal sebelumnya.
Kau terus berbicara. Bercerita apa saja sambil sesekali menguap.
Kantuk hampir menguasaimu rupanya.
Kemudian aku mengalihkan diri menatap jendela. Berpikir banyak hal. Lalu kau memelukku dari belakang. Bertanya apa aku baik-baik saja.
Aku baik-baik saja.
Tapi seperti ada yang pecah dalam kepala. Dan (sepertinya) itu salah.
Tanganmu tiba-tiba bergerilya. Meraba semua lekuk tubuh dari paha sampai payudara.
Kemudian kau habiskan hausmu di bibirku.
Entah berapa lama kita saling merengkuh, melebur dalam peluh. Tubuh membelit, jadi satu.
Namun seperti ada yang hilang.
Datangnya seketika.
Selesai sudah.
Aku tidak akan menyisakan sedikitpun relung hatiku untuk kau tempati.
Selasa, 04 Maret 2014
Senin
Pada suatu Senin, murung menggantung. Jakarta seperti abu-abu, menggelap. Dipayungi mendung, diselimuti asap kendaraan, berdenyut cepat diburu waktu, terkungkung.
Dari jendela kereta, terlihat awan-awan hujan sudah berkumpul di barat daya. Sebentar lagi akan turun hujan sepertinya.
Mudah-mudahan hujan sabar menanti hingga kami semua masuk tempat bekerja.
Jumat, 07 Februari 2014
Upstair
Kepulan asap rokok.
Kumpulan gelas yang mengembun.
Wajah-wajah lelah namun sumringah.
Duduk di sudut ruang, mengamati keriuhan sementara menunggu teman merayakan hari bahagia kekasihnya.
Canggung.
Sebab desibel yang melebihi batas, serta bersinggungan dengan orang-orang tak dikenal.
Lalu sedikit merindukanmu.
Dimana kau dan aku duduk tenang membaca buku, dengan dua gelas teh hangat.
Menjauh dari keriuhan.
Mengalir bersama liniernya waktu.
Sementara itu,
masih duduk mencermati, mulai terdedah bosan, dengan cangkir teh panas ketiga yang mulai tandas.
Minggu, 02 Februari 2014
Hujan
Hujan memiliki arti tersendiri bagi setiap individu.
Ada yang menganggapnya sebagai berkah yang tercurah.
Ada yang mengira itu muslihat musibah.
Ada yang berubah sendu sebab katanya mengubah suasana jadi melodramatis.
Ada yang berdiam tenang menikmati rintik dan harum tanah yang terpercik.
Ada pula yang bersukaria, berlari dan menari lupa usia, menganggap air tumpah ruah merupakan sarana mengikis dosa dan melipur lara, hibah Yang Mahakuasa.
Bagiku hujan memberi alasan tegas untuk meneruskan tidur.
Bergelung dalam selimut hangat, berharap sekat otak terbuka hingga logika tak lagi terhalang penat, kemudian tenggelam dalam kejemuan yang memekat.
Hingga esok tiba, kuharap hujan belumlah reda.
Malam
Kebahagiaan melekat padaku seperti stiker sedot WC yang menempel erat di tiang listrik. Ditempel sembarang, namun sulit dilepas.
Kebahagiaan itu, datangnya acak.
Lewat sebundel resep obat yang memperpanjang hidup.
Lewat sepotong pesan penghantar tidur.
Lewat penggalan adegan film.
Lewat setoples kastengel buatan Ibumu.
Lewat semangkuk sup pereda flu buatan Ibuku.
Lewat warna hijau lampu lalu lintas.
Lewat jilatan penuh terima kasih dari anjing peliharaan.
Lewat sel yang berkembang baik.
Lewat hujan dini hari.
Lewat dirimu.
Dimana kau adalah sebentuk kebahagiaan kekal sederhana yang aku cinta.
Kau
Sementara aku berjejalan naik kereta menuju tempat kerja di Ibu Kota, kau (mungkin) sedang berkendara menuju kampusmu, naik sepeda, berjaket coklat tua, sambil bersenandung riang menggilas jalanan.
Sementara aku berjalan tak tentu arah, dengan kepala penuh sampah, kau (mungkin) sedang belajar materi ujian untuk pekan depan.
Sementara itu,
entahlah.
Aku naik bis kota. Bayar dua ribu duduk sepuasnya. Buka jendela selebarnya, lalu menikmati deru angin campur debu yang menghantam muka.
Lalu teringat ketika kau dan aku menumpang bis itu tempo hari. Berbicara apa saja dari Grogol sampai Salemba, sambil menikmati sore Jakarta.
Langitnya oranye, secerah senyum manismu.
Di sana menjelang sore juga sepertinya. Mungkin kau sedang duduk sambil membaca, atau melamun ketika naik sepeda.
Entahlah.
Sementara itu,
(mungkin)
Kau sedang sendiri. Entah memikirkan apa. Yang pasti, tak ada aku di sana.
Hitam.
Padahal sebelum Tuhan menciptakan Terang, yang ada hanya Gelap. Kelam. Dan hitam.
Go (blog)!
Selasa, 26 Juni 2012
Rambat
Siapa itu yang menangis pilu sambil menjinjing nyiru?
Siapa itu yang berlari dengan rambut tergerai, basah?
Siapa itu yang menatap nyalang di rumpun bambu?
Siapa itu yang terperangah melihat paha mulus dibalik jarit batik?
Siapa itu yang tertawa?
Siapa itu yang terpekik?
Siapa itu yang mati-matian mencakar?
Siapa itu yang mengaduh, perut menganga kena hujam tusuk konde?
Siapa itu yang meregang nyawa?
Siapa itu?
Siapa?
Maka jadilah kehendakNya, ia selamat.
Ia terabas jalan setapak, mukanya basah, rambutnya basah. Tangisnya pecah.
Ia tak lagi segan berlari.
Tusuk konde perak di pinggang, pipi tergores debu, jemari berlumur darah. Pekat. Bukan darahnya.
Sampailah ia di batas desa.
Perlahan ia rapikan rambutnya, dipakainya tusuk konde anyir itu. Ia bilas lengan dan kakinya.
Ia rapikan kebayanya, wiru jaritnya yang tak karuan, serta sisa-sisa airmata yang mengerak di pipi. Ada bekas titik-titik hujan juga di situ.
Ia datangi satu rumah berpagar kayu. Ada pohon asam di muka, dan ada yang sedang duduk di dahannya. Memperhatikan seksama. Wanita jejadian berkaki kuda, menatap penasaran dengan matanya yang putih di balik helai rambut terurai.
Janganlah kau mengganggu! Aku hendak membayar dendam. Enyah atau rasakan pedihnya garam krosok di wajahmu yang rusak itu!
Wanita jejadian tertawa nyaring, mendesis takut. Terbang menjauh.
Ia ketuk pintu tuan rumah. Ia disambut wanita berparas ayu, jaritnya mewah, tusuk kondenya perak. Sama persis seperti miliknya. Tersenyum ramah
Hendak mencari siapa Mbakyu?
Ia terpana. Jadi inilah dia.
Mas Adicakra ada? Saya bawa lengo tanah pesanannya. Ia bilang mau buat isi blencong bakal pentas wayang kulit nanti malam.
Maturnuwun Mbakyu, biar saya yang terima. Mas Cakra sedang di rumah Pak Dalang Sangaji.
Ia tersenyum tipis, sudah tahu jawaban itu.
Ia terima bayarannya, ia sisipkan di stagennya. Lalu pamit pulang.
Tapi ia tidak keluar dari halaman muka. Ia berputar, cari celah masuk.
Dari sela-sela dinding gedhek, ia mendengar percakapan. Itu suara Kekasihnya. Wanita itu berdusta!
Maka jadilah kehendaknya.
Pelan-pelan ia menabur jerami tipis dan debu, kemudian minyak harum, lalu ia percikkan minyak tanah ke tiap dinding rumah limasan itu. Perlahan. Tiap jengkal ia berdoa, tiap depa ia merapal mantra.
Lalu dikeluarkannya pemantik dan dengan sekali jentik, muncul api dan jerami mulai terbakar. Tengkuknya bergidik.
Namun hatinya sudah bulat, tekatnya sudah menggenang pekat.
Kekasihnya yang ia cintai berkhianat. Maka jadilah dendam berdaulat.
Dinding mulai terbakar. Atap berasap, api menjalar tenang.
Ia kembali ke halaman muka.
Menatap nyalang, lalu bersimpuh. Takzim.
Dari dalam terdengar pekik tuan rumah, panik cari jalan keluar. Namun rapalan mantra menahan mereka dari pintu. Akhirnya terbakar hidup-hidup. Perlahan..
Ia lalu menari, dalam bisu, di tengah gerimis, di depan api yang berkobar sangar, melumat rumah beserta penghuninya.
Ia menjejak tanah, menari sambil mengenang orangtuanya yang ditangkap dan disembelih penjajah. Ia menari sambil mengenang janji-janji Kekasihnya, tusuk konde pemberiannya yang dilapisi kata-kata manis, bahwa itu perak yang ditempa dengan cinta. Ia menari, mengenang, meregang harapan, bergumul dendam.
Biar kau rasakan panasnya api dunia sebelum kau mencicip neraka.
Biar kau terima, duka yang kau sisipkan di hidupku, kini kusematkan kembali di akhir hidupmu.